Dari : Situs Alfi

Senin, 13 Mei 2013

No Theme


Hanya Sederas Hujan

Musim hujan sudah mulai terasa, setiap sore hujan mulai mengguyur kota kami dan keadaanku tak berubah masih seperti 2 bulan yang lalu. “ifa… minum dulu obatnya.” suara ibuku selalu terdengar di jam jam ini untuk sekedar mengingatkanku menelan obat obatku yang membuatku merasa membebani orang tuaku yang tiap bulan harus membeli obat obatan untukku. “iya bu… sebentar.” aku mulai menjalankan kursi rodaku dan membuka pintu.
“Kata ayah, bulan ini kamu sudah bisa ikut terapi sayang.” dengan mengecup keningku dan memberi obat untukku, suara ibu seolah membuat hatiku begitu gembira akhirnya aku terapi agar bisa berjalan lagi.
***
8 bulan yang lalu radit adalah tunanganku kami memang serius menjalani semua ini, kita sama aku serius dengan radit, radit pun serius dengan ku dan dengan mika.
“sayang kamu sore ini temenin aku ke toko buku yah, ada terbitan baru yang pengin aku beli”
“ifa… emang ngga ada kerjaan lain apa selain baca buku buku ilusi itu?” balas radit dengan meneguk teh buatanku.
“kamu kenapa sih? biasanya juga engga protes kok, ada masalah apa kamu?” ucapku dengan pelukan kecil diperut radit.
hp radit yang dari tadi di meja tampak menyala dan bergetar, ya… ada sms masuk. Tanganku seketika ditarik begitu aku akan mengambil hpnya. “katanya mau ke toko buku, sana siap siap dulu.” sambil membaca pesannya dia berbicara padaku, tak pernah sebelumnya dia lebih mementingkan hapenya seperti itu, tapi aku tidak mau berfikiran negatif tentang orang yang sangat aku sayang. setelah tersenyum kecil aku masuk kamar dan mengganti bajuku dan bersiap untuk ke toko buku. Setelah keluar kamar Radit sudah ada di mobilnya dan menelfon seseorang, begitu aku masuk dia keluar mobil dan melanjutkan telfonnnya.
“Siapa yang telfon?” itu hanya terucap dibatinku saja, karena berharap radit yang akan memberitahu tanpa ku tanya
“Kita mau ke toko yang biasa apa yang mana fa?” sambil menyalakan mobilnya tanpa menoleh ke arahku dia bertanya seperti itu.
“Terserah saja, bukunya sudah ada dimana mana kok.” aku jawab seadanya dengan menutup kaca mobil dan menatap keluar.
***
3 hari setelah itu dia tidak pernah terdengar kabarnya, bahkan saat aku kerumahnya mereka sudah pindah rumah, aku kebingungan kurang lebih 2 minggu sampe akhirnya aku memutuskan bertemu Era, teman dekatnya
“sudah dua minggu ini radit menghilang” ceplosku begitu era melihatku didepan pintu.
“Ifa, kamu kenapa.” Era memeluku begitu mulai melihatku menangis
“sudah dua minggu radit tidak ada kabar bahkan rumahnya kosong, kata tetangga dia pindah seminggu yang lalu.” setelah duduk aku mulai menceritakannya.
“Loh, aku engga tau fa, sudah lama aku ngga tau kabarnya radit, aku sibuk dengan tugas kantorku fa, kalian ada apa?” era meletakan minum dan mulai duduk disampingku.
semua kuceritakan mulai dari anehnya sikap radit terhadapku sampai seringnya radit menerima sms dan telfon dari seseorang. Era yang tidak tau apa apa pun ikut menanyakan radit ke semua teman teman radit, hasilnya nihil. Bahkan kita sudah mencari radit di kampus dan radit sudah lama meninggalkan semesternya. Aku makin bingung, begitu juga Era bahkan kami sempat menanyakan ke semua teman radit di kampusnya, mereka pun sama tidak tau.
***
Kami bersiap untuk datang ke acara ulang taun teman smpku yang juga teman kantor era sekarang, sangat luar biasa perjalan kami, hanya berdua dengan menggunakan mobil era yang belum terbiasa jalan jauh ini dugaanku benar, dijalan mobil era mogok, akhirnya kami menunggu mobil diperbaiki oleh bengkel terdekat.
“Lagian temen kantor kamu ko rumahnya jauh banget ra?” sambil membetulkan make up ku yang rusak.
“katanya ini spesial makanya dia rayain di rumah calon tunangannya itu.” masih sibuk memperhatikan mobilnya.
“tapi kan…” kata kataku terhenti seketika saat hpku dengan dering khusus untuk nomer radit berbunyi.
“apa fa?” menoleh ke arahku dengan muka penuh ke heranan.
Aku hanya tersenyum dan mengangkat panggilan dari tunanganku yang sudah 3bulan menghilang dari hidupku. “kamu kemana?” suaraku pelan dan penuh kasih saat menjawab panggilannya. “Ifa… aku sangat menyayangimu, kamu tau itu, aku sangat menginginkanmu untuk bahagia aku ingin kamu bahagia ifa…” terdengar sedikit tangisannya, sudah 2 taun kami pacaran dan baru sekarang aku mendengarnya menangis. “radit… tunanganku.” “ifa… kita ngga bisa lanjutin tunangan kita ini fa.”
“Radit, kamu kenapa? ada apa? cerita sama aku… Radit.” Aku hanya bisa menatap kosong dunia saat radit memutus telfonnya setelah memutus hubungan kita ini, sungguh aku engga tau yang sekarang aku rasain.
“Ifa…” Era langsung memeluku setelah tau yang menelfon adalah radit, orang yang menghilang tiba tiba itu.
“mba silakan mobilnya sudah bisa jalan.”
“oh, iya ini ambil.” Era segera menuntunku ke mobilnya.
Dua jam di dalam mobil aku hanya diam dan berfikir ada apa dengan raditku, ada masalah apa dia?
“Ifa, kalo kamu mau pulang saja, aku ngga keberatan fa.” menatapku dengan penuh tanya
“engga papa Era, kita harus dateng, ica dulu temen baikku.”
***
Benar benar sepesial Ica mengenakan gaun yang begitu cantik, ulang taunnya begitu mewah, tamunya begitu banyak. Seketika pikiranku tentang radit menghilang, dan ikut merasakan meriahnya ulang taun teman dekat smpku ini. Mungkin ica terlalu sibuk karena begitu banyak tamu yang datang sehingga dia tidak melihatku dan Era sudah hadir di pestanya.
“Terima kasih sebelumnnya untuk kedatangan kalian semua di acara pesta pertunanganku yang sudah seminggu lalu.” sambut Ica begitu semua tamu datang
Semua bersorak dan tersenyum merasa tertipu, mereka pikir ini acara ulang taun saja, pantas begitu ramai dan mewah.
“Perkenalkan nama saya Gian, terimakasih untuk semua yang sudah mau datang ke acara kami ini.”
Pestanya begitu ramai dan menyenangkan. sesampainya di rumah. Ya Tuhan itu mobil radit! itu mobil radit! aku berlari serasa sangat ingin memeluknya karena begitu jahatnya dia menghilang dariku.
Oh God ada apa, kenapa semuanya menunduk saat aku datang, kenapa semuanya diam dan kenapa radit bersama seorang wanita yang belum aku kenal.
“Aku pulang.” Dengan rasa tidak peduli aku masuk kamar tanpa memandang muka siapa pun lagi.
“keluar dulu nak, radit mau bicara.” ibu terus mengetuk pintu kamarku.
Difikiranku hanya satu, itu adalah pacar baru radit dan dia ingin meminta maaf karena menghianatiku. keluar kamar ibuku tersenyum masam dan menuntunku ke radit.
“Ifa…ini Sely.” sapa radit dengan sedikit mengangkat alisnya, kebiasaan radit saat sedang grogi
“Sely…” Ucap sely dan kemudian menunduk. dan tiba tiba bangun dari kursi dan memeluku.
“Mika sudah 6 bulan koma, setelah bangun dia hanya memanggil nama radit, dan selalu radit. kaka sering menghubungi radit agar hanya sekedar menjenguk mika, mika sudah… sudah…” kata katanya tehenti dan tangisnya semakin menjadi.
“duduk dulu sel.” kata radit dan coba menenangkannya.
siapa mika, koma, apa, ada apa ini. Aku hanya diam dan kebingungan, ingin rasanya aku menangis saat fikiran fikiran negatifku memenuhi otak.
Setelah dijelaskan ternyata Mika adalah adik kelas radit saat SMA dan merupakan mantan radit dulu, namun tak seperti radit yang bisa melupakannya dan bertunangan denganku. Mika bertaun taun tidak bisa jauh dari radit, bus rombongan wisatanya terguling yang menyebabkan Mika koma. Mika hanya bisa mengingat sedikit tentang apa yang ada di hidupnya, dia amnesia. Dan radit lah yang bisa jadi dokter karena Mika tak pernah kehilangan memorinya dengan radit. Aku tak memahaminyaa, kenapa harus raditku kenapa harus radit, dan kenapa mereka harus bertunangan hanya untuk mengembalikan memori yang hilang? kenapa mereka tak membuat memori baru dan tidak membawa radit kedalamnya?
Aku frustasi dan mulai mengkonsumsi obat obatan terlarang yang membuat saraf sarafku melemah, setelah rehab saraf kakiku tetap lemah dan menjadi seperti ini sekarang. Yang aku dengar Mika mulai mengingat memorinya dan aku berharap dia mengembalikan apa yang dia pinjam setelahnya.
***
“Ibu, terapiku mulai kapan?”
“Kamu sabar, nanti ayah akan menjelaskannya lebih lanjut.”
Aku hanya tersenyum melihat hujan di luar sana, dan percaya sederas derasnya hujan, pasti akan reda.

:)


Bahagia Itu Sederhana

Perasaan hangat saat merasakan rasa istimewa, melambungkan angan-anganku sejauh-jauhnya hingga tak terjamah lagi oleh mata manusia manapun. Keberanian menyeruak dari hati yang terdalam menepiskan rasa ragu atas perasaan yang tengah kurasakan kini. Sejenak aku mencoba singgah dan saat itu juga aku tak mau pergi lagi. Masih tetap singgah walau mungkin tak terlihat. Hanya bisa menepi dan bersembunyi di balik dinding yang bernamakan kerahasiaan. Sungguh aku tahu hal ini tak mudah, namun aku sudah terlanjur terbawa arus atas sosoknya yang indah di pandanganku. Aku merasakan kebahagiaan. Bahagia yang sederhana ketika merasakan rasa istimewa.
Tetapi terkadang ada perih yang kurasakan. Terkadang juga ada sedikit kebahagiaan yang kudapatkan. Tinggal bagaimana aku bisa memaknai dan sampai sejauh mana aku sanggup bertahan akan perasaan tak terbalas ini. Aku hanya manusia yang memiliki hati dan kebetulan merasakan rasa istimewa pada manusia yang juga memiliki hati. Bedanya denganku, manusia yang bernama Diraz tak memiliki rasa istimewa pada manusia yang bernama Mikha. Kini aku terdampar di tengah lautan hatinya. Aku tenggelam dalam lembah perasaanku. Tak akan ada yang bisa membawaku ke daratan karena besarnya ombak cinta yang tengah menggulungku. Tapi sungguh aku merasakan bahagia. Bahagia itu sederhana ketika kita jatuh cinta.
“Aduh, sakit!” keluhku meringis saat kakiku bersenggolan dengan kursi di depanku.
Perlahan aku duduk dan memulai mengurut-urut kakiku yang terkena benturan kursi tadi. Gara-gara terpana melihat Diraz, kakiku merasakan nikmatnya bersentuhan dengan kursi. Pedih terasa di bagian kakiku, tapi aku merasa bahagia, masih bisa melihat Diraz hari ini.
“Nih kartu kuliahmu, Kha. Eh, kenapa kakimu diurut-urut seperti itu?” tanya Sonya mengamati tanganku yang menari-nari di atas kakiku.
Aku tersenyum menahan sakit, “Terbentur di kursi itu, Son.” kataku sambil menunjuk kursi di depanku.
“Kok bisa? Ada-ada saja kamu Mikha. Aku bantu mengurut kakimu ya.”
Beberapa menit kemudian setelah aku merasa kaki ini sudah cukup baikan, kami melangkah keluar ruangan dan menuju ke kantin untuk mengisi perut yang berontak meminta asupan energi. Lagi-lagi, sosok Diraz lewat di hadapanku. Kali ini aku berusaha untuk tidak tersandung kursi atau hal lain yang dapat menimbulkan kerugian pada anggota tubuhku. Sedikit gugup aku mencoba tenang membawa mangkuk yang berisi bakso favoritku ke salah satu meja yang telah ditempati Sonya. Begitu tampak kebencian di wajah Diraz saat dia tak sengaja menoleh ke arahku tadi. Aku tak tahu harus bagaimana, mau minta maaf tapi aku takut malah akan membuatnya marah
***
Hal rutin yang aku lakukan setiap pukul delapan malam adalah online lalu log in ke akun facebook. Kemudian membuka profil facebook Diraz. Hanya dengan melihat-lihatnya aku merasakan bahagia. Walau hampir setiap hari ketemu dan melihat Diraz karena kami selalu satu ruangan saat kuliah, aku tak pernah bosan mengamati facebook-nya sekedar ingin tahu keadaannya atau apa saja yang dia lakukan seharian ini dan tentu saja tak lupa melihat komentar-komentar dari setiap status yang dia tulis di sana. Sebenarnya sampai sekarang aku masih takut-takut untuk menjelajahi profil facebook Diraz, takut jika ketahuan oleh orang lain. Maka dari itu aku hanya membuka profilnya jika sudah berada di rumah Sekarang aku tidak lagi menjadi teman akrab juga teman di akun facebook Diraz sejak kejadian dua minggu yang lalu. Diraz yang telah berhasil mencuri hatiku, dia juga yang berhasil membuatku merasakan malu yang cukup besar pada kejadian dua minggu yang lalu.
Aku termenung membaca komentar dari statusnya 15 menit yang lalu.
‘Maafkan aku, aku lakukan ini demi kebaikanmu’
Komentar:
Clarabela Assyifa : ‘Dimaafkan yank, :D
Diraz Pranata : ‘Hahaa Bela.’
Clarabela Assyifa: ‘Kenapa ketawa yank?’
Bela memanggil Diraz “yank”? Apa benar gosip yang kudengar beberapa hari yang lalu kalau Bela menyatakan cinta ke Diraz dan Diraz menerimanya. Tapi kenapa masih berstatus lajang, belum ada perubahan status hubungan di facebook Diraz jika mereka telah resmi jadian. Setetes air bening keluar dari mataku. Tak sengaja dan tak kuinginkan. Aku menghapus air bening itu dari pelupuk mataku dan tersenyum. Mikha, kamu sudah terlanjur terdampar dan tenggelam di hatinya. Saat ini hanya ada satu yang bisa dilakukan. Ikhlas. Dengan begitu kamu akan merasa bahagia tanpa harus memiliki hati dan cintanya. Aku mengatakan kata-kata itu dalam hati guna menghibur diriku sendiri. Di depan laptopku yang masih menyala, aku melamun dan mengenang kembali kejadian dua minggu yang lalu. Kejadian yang tak bisa kulupakan.
“Teman-teman, lihat nih. Si Mikha lagi membuka profil facebook Diraz loh!” teriak Bela sambil merebut laptopku.
Aku cemas dan berusaha merebut kembali laptop itu dari tangan Bela. Tapi, kerumunan teman-teman yang penasaran membuat aku kesulitan. Aku hanya terdiam. Tak berapa lama kemudian Diraz datang dan langsung diseret Bela untuk melihat laptopku.
“Mikha benar-benar menyukaimu Diraz. Coba cek saja di document, foto-fotomu yang di facebook hampir semuanya di-download. Dasar cewek tak tahu malu,” caci Bela sambil memandang sinis padaku yang hanya bisa tertunduk pasrah.
Diraz melihat-lihat isi document di laptopku, wajahnya berubah ketika menemukan foto-fotonya ada di laptopku. Pandangannya beralih memperhatikan diriku yang berdiri kaku.
Tiba-tiba, gubraakk…!
Diraz memukul meja dengan keras hingga laptopku bergeser dan hampir terjatuh. “Hapus semua foto-fotoku! Jangan ganggu aku, aku tak sudi disukai oleh cewek sepertimu!” bentak Diraz emosi dan seketika melangkahkan kakinya menjauh. Bela tersenyum mengejek padaku kemudian menyusul Diraz yang sudah tak terlihat lagi.
Begitu kusesali apa yang telah terjadi padaku waktu itu. Sungguh rasa malu sangat ku rasakan saat itu hingga sampai sekarang aku masih dihantui rasa malu dan bersalah. Aku tak berani lagi menatap Diraz secara langsung ataupun bertemu dia. Memang benar apa yang dikatakan Bela jika aku tak pantas untuk menyukai apalagi mencintai Diraz, cowok yang memiliki banyak kelebihan dan idola para gadis di kampusku. Jadi aku harus melupakan perasaanku pada Diraz. Namun, Sonya bilang padaku kalau rasa suka atau cinta itu adalah hak masing-masing manusia. Jadi sah-sah saja dan tak ada yang bisa melarang. Aku lebih memilih apa yang dikatakan Sonya karena memang aku tak sanggup membunuh perasaan ini. Aku akan berusaha agar perasaan ini terjaga dengan baik sehingga tak ada lagi seorang pun yang tahu.
Aku adalah makhluk biasa yang mempunyai rasa cinta pada seseorang. Sebenarnya memang tak salah jika kita mencintai seseorang. Tapi, kenapa Diraz sampai begitu benci padaku yang mencintainya. Sampai saat ini aku tak menemukan jawaban itu. Namun aku tak akan ambil pusing. Sudah cukup bagiku hanya merasakan cinta ini, mengagumi dari jauh dan yang terpenting Diraz bahagia dan baik-baik saja maka aku pun turut bahagia. Cinta tak bisa dipaksakan, cinta tak harus memiliki dan cinta tetaplah cinta yang hanya bisa dinilai oleh hati.
“Mikha, kamu baik-baik saja, kan? Dari tadi aku perhatikan dirimu melamun terus. Ada masalah sahabatku? Cerita saja!” ujar Sonya dengan suara pelan karena kami sedang kuliah dan dosen lagi memberikan penjelasan di depan dengan suara lantang.
Aku hanya menggeleng lalu tersenyum dan mengalihkan pandanganku ke sebelah kanan agak ke depan. Aku menatap sosok Diraz dari belakang.
“Ooh, aku tahu. Tentang Diraz ya? Hehee… cerita saja sehabis kuliah nanti, Kha!” kata Sonya sambil mencubit gemas pipiku.
Hanya meringis yang bisa kulakukan akibat cubitan Sonya. Sudah menjadi kebiasaannya mencubiti pipiku yang katanya buat gemas. Biasanya aku akan membalas mencubit pipinya juga, tapi aku ingat kondisi jika saat ini kami sedang mengikuti perkuliahan. Satu jam kemudian sang dosen telah meninggalkan ruangan. Aku mengambil botol minum dari dalam tasku dan meneguknya sedikit demi sedikit.
“Ayo dong cerita, cerita, cerita!” Sonya membalik kursi dan menghadapku. Wajahnya yang imut terlihat makin imut jika matanya memancarkan rasa penasaran.
Setelah Diraz dan teman-teman yang lain sudah pada keluar, aku menceritakan semua yang aku rasakan, aku yang tak bisa menghilangkan rasa istimewaku pada Diraz, aku yang bingung kenapa Diraz terlihat membenciku dan sangat terganggu jika aku mempunyai rasa suka padanya.
“Begitulah, Son. Aku hanya berharap saat ini Diraz, Bela dan teman-teman yang lain menyangka kalau aku sudah benar-benar melupakan Diraz dan tak lagi menyukainya,”
“Aku doakan itu Mikha. Kagum deh pada dirimu yang sanggup menghadapi perasaan seperti ini. Menyimpannya dan menahannya hingga sekarang. Aku akan bantu mencari tahu kenapa Diraz bersikap seperti itu padamu. Sahabatku ini kan gadis yang cantik, lucu, baik hati dan pintar. Bila dibandingkan dengan si Bela yang jahat itu, kamu lebih segalanya dari dia. Yakinlah kalau Diraz lebih memilihmu daripada Bela. Sebelum kejadian yang gara-gara Bela itu, Diraz kan baik-baik saja padamu seperti biasanya, duduk berdekatan dengan kita, masih ngobrol dan dia masih sering jahilin kamu. Mungkin ada sesuatu hal yang membuat Diraz berubah seolah membencimu terus-terusan Mikha,”
Pikiranku menerawang dan mencerna perkataan Sonya. Benar juga, sejak Diraz tahu kalau aku menyukainya itulah yang membuat sikapnya berubah dan membenciku. Sangat aku sesali tindakan Bela yang waktu itu membuatku malu dihadapan Diraz dan teman-teman kuliahku. Seandainya itu tak terjadi tentu sekarang aku masih bisa berteman dan dekat dengan Diraz. Aku merasa bangga bisa dekat dengan Diraz dibanding para cewek-cewek lainnya. Bela yang sudah lama menyukai Diraz saja tidak terlalu dekat. Malah Diraz pernah bilang jika dia agak risih dengan Bela yang agresif.
“Hanya dengan kamu aku merasa nyaman Mikha,” kata Diraz kira-kira sebulan yang lalu saat kami masih sebagai teman dekat.
Aku tersenyum mengingat kenangan yang kurang lebih sudah dua tahun kami lalui bersama, yang awalnya kenal karena masuk organisasi yang sama hingga menjalin pertemanan yang sangat akrab. Pada akhirnya aku merasakan jatuh cinta padanya sekitar enam bulan yang lalu. Rasa cinta itu hanya aku simpan dan berusaha tak ada yang tahu sekalipun pada Sonya, sahabatku dari SMA. Namun, tak kusangka akan ketahuan oleh Bela yang tak suka pada diriku karena dekat dengan Diraz. Terjadilah hal yang aku takutkan, kenyataan bahwa aku telah jauh dari Diraz, seseorang yang aku cintai.
Selalu berusaha tak menangisi kenyataan ini karena aku tetap merasakan bahagia. Cinta yang suci tanpa syarat akan selalu menciptakan kebahagiaan. Walau Diraz telah jauh, aku masih bisa memandang sosoknya diam-diam, itu suatu kebahagiaan. Walau tak berkomunikasi dengannya lagi, aku masih tahu kegiatannya dari membaca status facebook-nya, itu juga suatu kebahagiaan. Walau dia tak tersenyum lagi untukku tapi aku masih bisa melihat senyumnya saat dia tersenyum pada Sonya, itu pun suatu kebahagiaan. Walau seakan sikapnya padaku menunjukkan kebencian, aku masih bahagia karena itu berarti dia masih menganggapku ada. Bahagia itu menurutku sangatlah sederhana ketika aku merasakan cinta pada seseorang. Cinta suci tanpa syarat dan tanpa mengharapkan apa-apa.
***
Aku mencari sosok Sonya karena tak kulihat dirinya di ruang kuliah ini padahal tasnya sudah ada. Kulangkahkan kaki menuju halaman belakang kampus yang menjadi tempat bermain futsal. Ternyata Sonya ada di sana lagi duduk berdua dengan Diraz. Aku melangkah dengan diam-diam mendekati arah belakang mereka dan mendengarkan pembicaraan mereka.
“Jadi begitulah sebabnya kenapa aku marah sekali saat tahu Mikha benar-benar jatuh cinta padaku juga, Sonya. Aku telah berusaha membunuh rasa cintaku padanya setelah tahu kenyataan pahit itu. Aku tak menyangka ternyata Mikha juga cinta padaku. Aku ingin marah, aku tak ingin takdir ini!” kata Diraz terbata-terbata menjelaskan pada Sonya sambil menyeka matanya yang berair.
“Aku mengerti Diraz jika kamu bertindak seolah membenci Mikha, agar Mikha juga membencimu dan melupakanmu. Tapi, caramu tak berhasil karena Mikha tetap menyayangimu. Menurutku sebaiknya kamu bilang yang sebenarnya jika kamu terkena HIV, aku yakin Mikha mengerti dan tak akan memandang negatif tentang dirimu,”
Air mataku jatuh perlahan. Aku menangis mengetahui hal yang sebenarnya kenapa Diraz berubah sikap padaku. Ketahuilah Diraz, bagaimanapun kondisimu, aku akan tetap mencintaimu. Cukup hanya dengan mencintaimu aku bisa bahagia. Kapan pun dan bagaimana pun keadaannya, cinta yang tulus dan suci tanpa syarat hanyalah untukmu.

Doaku malam ini

Dimalam yang sunyi aku terdiam melihat langit malam, suara jangkrik, dan suara kodok semakin terdengar jelas. suara nafasku sendiri dapat ku dengar. aku ingin disampingku ada seseorang yang menemani malam ku, tapi tak ada semua sepi, semua sunyi, semua pergi ke dunia impian mereka masing-masing,Alam mimpi. Mereka semua sudah terlelap dalam buaian malam, tertidur nyenyak diatas katil mereka masing-masing.
Malam ini aku tak dapat tidur nyenyak seperti malam yang sudah berlalu, aku terbayang sesosok pria yang selalu ada dibenakku. walau aku tak tau siapa pria itu sebenarnya,detik demi detik berlalu, menit demi menit ku lewati,dan hari pun semakin larut malam. sunyi semakin sunyi. Malam ini hanya kehampaan yang ku dapat, sosok pria itu pun tak dapat muncul jelas difikiranku.
Aku hanya berdoa kelak aku akan dipertemukan dengan pria itu, sosok pria yang selalu terlintas dibenakku, yang selalu mengganjal dihatiku, yang selalu terbayang-bayang diotakku, seandainya aku tau siapa sosok pria itu.
Mungkinkah?Mungkinkah pria itu akan menjadi pendampingku kelak?
Aku selalu berdoa dia adalah sosok pria baik yang berahlak tinggi,dan menjunjung agamanya.
Ada sesorang yang sangat dekat dengan ku, aku sangat menyayanginya. tapi ad satu hal yang membuatku tak dapat menjalin hubungan yang lebih. aku dengan dia terbatas itu dapat dibilang sahabat, teman, dan saudara.
Aku hanya dapat berharap dan berdoa jika dia lah sosok pria yang selalu terlintas dibenakku. aku berdoa semoga dia menjadi jodohku beberapa tahun kemudian, aku dan dia dipertemukan setelah aku dan dia tak ada yang membatasi. Dan semoga saat itu aku masih bisa bernafas dan hidup.
Jika aku menutup mataku pun aku ingin saat itu dia ada disampingku, berdiri disampingku sebagai teman, sahabat, saudara, pacar, dan suami yang setia

Copas


Aku Benci Bulan

Langit malam ini terlihat begitu indah, bintang bertaburan di atas langit gelap yang membentang. Terlihat sangat indah karena tak ada bulan di atas sana. Aneh ya, tak ada bulan kok dibilang sangat indah. Padahal dengan kehadiran bulan akan membuat langit malam menjadi lebih indah. Itu pendapat kebanyakan orang, tapi tidak bagiku. Mungkin orang-orang akan mengecapku cowok aneh, cowok yang tidak romantis atau cowok apalah gara-gara aku sangat membenci bulan. Hampir seluruh orang menyukai benda langit ini yang merupakan satu-satunya satelit alami bumi. Sebenarnya dulu aku sangat menyukai bulan, apalagi jika bulan tampak membulat sempurna. Sangat indah untuk dipandang. Namun, semua kesukaanku terhadap bulan hilang seketika karena terjadinya tragedi yang sampai saat ini tak bisa aku lupakan.
***
“Pa, ayo dicepatkan saja laju mobilnya. Bulan selalu mengikuti kita nih!” kataku teriak-teriak pada papa sambil terus melongokkan kepalaku ke luar jendela mobil memandang bulan yang indah di langit.
“Sabar sayang. Lihat tuh papa sudah ngebut,” ujar mama yang duduk di sebelah papa sambil senyum-senyum melihat tingkahku.
Aku dan kedua orangtuaku sedang dalam perjalanan mengikuti arah bulan. Kami bertiga sama-sama menyukai bulan. Terlebih mama yang sangat maniak dengan satelit bumi ini. Perabot di rumahku hampir seluruhnya bergambar bulan. Malam ini saja baju yang kami kenakan bergambar bulan. Sengaja papa menyediakan waktunya malam ini buat aku dan mama. Biasanya malam-malam seperti ini papa sibuk berkutat dengan laptopnya di ruang kerja. Namun karena aku yang merengek-rengek minta keluar malam ini karena melihat langit malam begitu terang dan bulan terlihat penuh dan bercahaya begitu benderang.
“Ma, bulan mengikuti kita terus. Hebat ya, dia cepat juga menyusul.” aku berkata pada mama yang juga lagi memandangi bulan dari jendela mobil.
“Raka sayang, jika semakin jauh suatu benda, benda itu akan terlihat seperti mengikuti kita perlahan-lahan. Jarak gerak kita kecil jika dibandingkan dengan benda sebesar bulan. Jadi, bulan akan terlihat mengikuti kita ke mana pun kita pergi,” jelas papa sambil menyetir.
Tiba-tiba di depan kami ada truk besar melaju dengan sangat kencang. Papa tak sempat lagi mengelak. Hanya mampu membanting setir ke kiri namun truk itu tetap menyenggol mobil kami. Mobil menabrak pohon dan terjadilah tragedi yang menghilangkan nyawa kedua orangtuaku. Hanya aku yang selamat karena duduk di bagian tengah mobil.
Air mata membasahi pipiku jika mengingat tragedi yang terjadi 9 tahun yang lalu. Mulai dari tragedi itu hingga sekarang dan selama-lamanya aku akan membenci bulan. Orang tuaku meninggal disebabkan sedang melihat bulan yang dengan angkuhnya berdiri tegak di langit. Itu yang selalu mendominasi pikiranku tentang bulan yang menurutku dialah penyebab utama orangtuaku pergi untuk selamanya. Pokoknya aku begitu membenci bulan. Selama 9 tahun terakhir ini aku tak lagi keluar di waktu malam jika ada bulan bersinar. Melihat bulan akan membuatku bersedih dan menambah kebencianku.
***
“Cewek itu bernama Bulan, Ka. Adik tingkat kita, cantik dan manis ya.” kata Andre teman kuliahku yang menyadari sedari tadi aku memperhatikan cewek itu.
Mataku tak lepas dari Bulan yang lagi makan sambil mengobrol dengan dua orang temannya di kantin. Memang cantik, manis dan menarik. Dengan rambut lurus dan berponi indah, mata bulat, hidung bangir, bibir merah merekah, serta tingkahnya yang menggemaskan. Dia melihat ke arahku dan aku salah tingkah karena ketahuan. Dia tersenyum padaku dan aku balas senyumannya yang sangat indah. Tiba-tiba aku tersadar, menepiskan semua rasa kagum pada adik tingkatku itu. Aku tak suka dia karena bernama Bulan dan Bulan ternyata sangat menyukai bulan. Walau dia semenarik apapun, aku akan berusaha untuk menjauhinya.
Setelah pertemuan kami di kantin itu, Bulan mencoba akrab dan mendekatiku. Andre bilang Bulan menyukaiku. Tak bisa bohong aku pun juga suka dia. Tapi masalahnya dia bernama Bulan. Andre yang tahu alasanku kenapa menjauhi Bulan menceritakan yang sebenarnya kepada Bulan. Beberapa hari kemudian Bulan datang menemuiku yang lagi mengetik skripsi di perpustakaan. Dia langsung duduk di sebelahku dan mengajak bicara.
“Kak, Bulan sudah tahu semuanya. Tapi kakak egois, masa cuma gara-gara itu kakak jadi membenci Bulan juga. Bulan tahu kakak menyukai Bulan, kenapa harus menutupi perasaan itu, Kak?”
“Kamu bilang ‘cuma’? Kamu tak mengerti dan kamu tak mengalaminya, Bulan. Tahu apa kamu?” jawabku yang langsung meninggalkannya keluar perpustakaan.
***
“Halo Kak Raka. Lagi apa?” tanya Bulan dengan suaranya yang merdu di telepon.
“Lagi tiduran saja sambil dengar musik.” jawabku dengan cuek.
“Keluar sekarang ya, Kak. Bulan di depan rumah kakak. Bulan mau melihat bulan yang sangat indah di langit malam ini berdua sama kakak.”
Aku terheran-heran dengan omongan Bulan. Langsung kusibakkan tirai jendela kamarku. Benar, bulan sedang berdiri di depan rumahku dengan kepala tengadah ke atas memandangi bulan sambil tetap bicara denganku lewat handphone-nya.
“Aku tidak mau. Lagian siapa suruh kamu ke rumahku malam minggu begini dan pakai acara mengajak melihat bulan segala. Kayak anak kecil saja.”
“Ayolah, Kak. Please! Buang semua rasa benci kakak pada bulan. Kematian orangtua kakak itu bukan karena bulan. Itu kecelakaan, takdir yang sudah ditetapkan Tuhan. Bulan akan tetap menunggu kakak disini sampai kakak mau keluar!”
Aku tetap bersikukuh dengan pendirianku untuk tidak keluar.
Sudah lebih setengah jam Bulan menungguku di luar. Bulan dengan sabar menungguku sambil memperhatikan bulan di langit. Aku kasihan dengannya, ingin keluar sesuai keinginannya. Tapi egoku mengalahkan rasa kasihanku pada Bulan. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Bulan. Aku menuju ke jendela dan melihat Bulan sudah terkapar. Dengan berlarian aku keluar rumah. Tak dapat terlukiskan perasaan sedihku ketika kulihat tubuh Bulan terkapar bersimbah darah. Mobil yang menabraknya melarikan diri. Aku dan orang-orang yang melihat kejadian itu membawa Bulan ke rumah sakit. Belum sampai di rumah sakit, Bulan telah menghembuskan napas terakhirnya.
“Bulaaaaaaaan. Maafkan aku!” aku berteriak sekencang-kencangnya.

Rabu, 01 Mei 2013

Cerpen Lagi


Burung Kertas

Pagi mendung dengan milyaran rintik hujan yang turun dari langit. Sherly.. begitu ia di kenal, seorang gadis yang masih duduk dibangku kelas 12 SMA ini dikenal sebagai gadis periang dan sangat disukai teman-temannya karena keramahannya. hari ini seperti biasa Sherly memulai langkahnya dengan sebuah senyuman riang yang dibawa nya dari rumah hingga sekolah. selalu seperti ini senyum yang merekah dari bibir nya mampu membuat semua mata menjadi tertuju padanya, tidak lain dengan Dimas.. lelaki yang selama ini menemai hari-hari Sherly, ya. Dimas adalah kekasih Sherly. sudah hampir bertahun-tahun mereka menjalani kisah cinta nya di SMA. berawal dari sebuah MOS mereka berkenalan hingga akhirnya memutuskan untuk berpacaran.

Hari berganti hari, detak jam pun mulai berpindah tempat.. setiap hari selalu ada kisah manis diantara mereka berdua. tak pernah sedikitpun waktu yang dilewati mereka begitu saja, pasti selalu ada yang bermakna.. mulai dari Dimas yang selalu mengucapakan “Selamat pagi, Cinta” kepada Sherly, sampai Sherly yang rutin setiap pagi nya mengantarkan sebuah nasi goreng dengan bentuk “love” sebagai sarapan Dimas. tak pernah satu hal pun mereka lewati dengan kesedihan. hidup mereka seakan sempurna dan berwarna.

Singkat cerita.. kelulusan sudah didepan mata, Sherly dan Dimas lulus dengan nilai yang cukup memuaskan.. Sherly melanjutkan kuliahnya di kedokteran. namun lain hal nya dengan Dimas, Dimas yang notabene hanya seorang anak tukang becak harus rela melalui hari-hari nya tanpa meneruskan sekolah dijenjang yang lebih tinggi lagi. semua itu tidak merubah perasaan antara mereka. tetap ada cinta di sela-sela keseibukan mereka masing-masing.. sudah lama hubungan mereka berjalan. satu sama lain pun saling mengenali masing-masing sifat dan sikap nya. hampir tidak ada pengecualian untuk mereka berdua..

Hingga akhirnya..
Pada suatu hari… tepat satu bulan sebelum ulangtahun Sherly, Dimas menyiapkan sebuah hadiah untuk ulang tahun kekasihnya itu.. Dimas membuat banyak burung-burung yang terbuat dari kertas origami. hampir ratusan burung yang sudah dibuat Dimas untuk hadiah ulangtahun Sherly. dan kebetulan pada saat yang bersamaan, Dimas juga merencakanan sebuah kejutan untuk melamar Sherly. tanpa Sherly ketahui.. ternyata semua ini sudah dirangkai indah oleh Dimas.

24 November 2012, tepat ulangtahun Sherly hari ini, Dimas sudah menyiapkan kue ulang tahun beserta lilinya dan sebuah kotak yang berisikan ratusan burung-burung kertas yang disetiap burung terdapat keinginan Dimas untuk dapat hidup bersama Sherly hingga akhir hayatnya. tak lupa sebuah cincin yang sudah disiapkan Dimas untuk meramal Sherly dihari ulangtahunnya. Dimas sangat antusias pada hari itu. sangat bersemanat untuk menyambut ulang tahun kekasih hati nya ini.. hingga akhirnya sebuah kejadian yang tidak pernah dibayangkan oleh Dimas pun terjadi..
Dimas
Happy Birthday, Sayaaaanggg!
(sambil memberikan kue dan lilin pada Sherly)
Sherly
(terdiam dan hanya senyum)
Waaahh.. Dim… ya ampun.. makasih bangettttt!
(memeluk Dimas dan meniup kue ulangtahun)
keadaan saat ini sangat berkesan bagi Sherly dan Dimas. dan hingga akhirnya Dimas mengeluarkan kotak berisi burung-burung kertas dan sebuah kotak yang berisikan cincin..
Dimas
Ini buat kamu..
(memberikan kotak)
isi nya nggak seberapa kok, cuma kertas-kertas yang aku rangkai jadi burung, tapi disetiap burung itu ada harapan-harapan untuk hubungan kita lho.. smoga kamu suka ya sayang..
Sherly
(membuka kotak)
Dim… kamu selalu penuh kejutan. makasih bangett! aku suka banget sama burung-burung ini, Lucu..
Dimas
ada hadiah satu lagi buat kamu nihh..
(berlutut dan membuka kotak cincin)
Sherly bingung.. ada kejadian aneh disini. ternyata Dimas melamar Sherly hari itu juga. namun.. namun.. Sherly tidak dapat menerima lamaran Dimas waktu itu.
Sherly
Ini maksud nya apa?…
Dimas
ini tanda keseriusan aku sama kamu, Sher.. aku mau kamu jadi pendamping aku sampai kapanpun.
Sherly
Dim.. kamu nggak ngerti.. aku.. aku gak bisa, Dim. aku gak bisa terima ini.
Dimas
Kenapaaa?.. bukannya kita udah ngerencanain ini dari lama?
Sherly
kamu nggak tau masalahnya dan kamu nggak ngerti.. aku gak bisa! orangtua aku nggak setuju kalau aku sama kamu.
Dimas
lhoo? kenapa?
Sherly
karena kamu gak punya pekerjaan.
Hening… omongan Sherly bagai sebuah meteor yang jatuh menimpa wajah Dimas. Dimas marah besar dan mengucapkan kata-kata diluar kesadarannya..
Dimas
cuma karena itu? dasar cewek matre! keluarga matre! harusnya aku emang nggak bilang kayak gini. anggap kita gak pernah kenal! suatu saat aku akan jadi orang terpandang. lihat nanti!
Dimas pergi meninggalkan Sherly. dan Sherly hanya bisa terdiam dan menangis.

Hampir enam bulan Sherly tidak memberikan kabar untuk Dimas. Dimas seakan-akan sudah tidak mengenali dan mengetahui kabar tentang Sherly. keadaan Dimas kini berubah. ia sudah sukses.. siapa yang tak kenal Dimas? seluruh pelosok desa pun tahu siapa “Dimas”..
Sore harinya, saat Dimas mengendarai sebuah mobil, tiba-tiba ia bertemu dengan Ibu Sherly. niat buruk Dimas mulai keluar, ia ingin menabrak Ibu Sherly untuk balas dendam.. namun hati kecil nya menahan.. dan akhirnya Dimas pun malah mengikuti kemana Ibu Sherly pergi. dan ternyata Ibu Sherly mendatangi sebuah makam.. disebuah makam itu Dimas merasakan hal aneh..
Dimas
Ibu.. maaf.. Dimas lancang ngikutin Ibu sampe sini.. itu makam siapa, Bu?
Ibu Sherly
ya ampun Dimas. kamu kemana aja? ini… ini.. ini makam Sherly..
Dimas
(Teriam dan termenung)
Bohong…
Ibu Sherly
Dimas.. Ibu gak bohong. semenjak kamu pergi ninggalin Sherly hari itu penyakit Sherly semakin parah, kanker tulang belakangnya yang selama ini disembunyikan dari orang-orang dan terutama kamu semakin memburuk. sudah hampir dua bulan ini Sherly meninggal dunia. ini Sherly sempet titip surat ke kamu
(memberikan surat pada Dimas)
Dimas kaget mendengar itu, ia tetap tidak percaya bila makam itu adalah makam Sherly. hingga akhirnya ia membaca surat dari Sherly..

 
Cerpen Karangan: Syahrima